.jpg)
paralayang......
tempat yang keren buat kamu2 yang suka merenungi kebesaran Tuhan...
Tadi pagi, baru tadi pagi aku memahaminya. Apa itu? Yaitu sebuah pergulatan batiniyah yang terjadi dan bergejolak dalam hatiku. Beberapa hari sakit mata, seolah aku akan kehilangan penglihatan untuk selamanya, mengingatkan alam sadarku bahwa semua yang kita miliki adalah titipan.
Aku adalah titipan Tuhan yang dititipkan melalui ibuku dan ayahku tercinta. Dan saat ini tentunya aku sedang dititipkan pada seorang kakak laki-laki bermuka tampan dan kami inhabitant alias terdampar di kota Malang nan panas ini. Begitu pula ibuku serta ayahku, mereka dititipkan Tuhan melalui kakek dan nenek. Begitulah kehidupan berjalan seterusnya. Namun hanya satu pertanyaanku kawan, apakah ibu dan ayah akan tetap menganggapku demikian seandainya aku sama sekali tak mengindahkan keinginan mereka?
Pernah suatu kali aku berpikir untuk pergi jauh dari kehidupan orang-orang terdekatku, berpetualang mencari komunitas baru, atau pergi ke hutan berteman dengan hewan liar, belajar bahasa binatang, atau bahkan pergi ke luar pulau nan jauh terpencil dan hanya ada kehidupan sekelompok manusia tak lebih dari 20 KK. Namun segalanya kandas ketika aku mengingat betapa sedihnya mereka kehilangan anak semata wayangnya, adik selucu aku, pacar semanis aku, gila!!!!
Into The Wild................true story film. Bener-bener ngasih insprirasi besar hari ini bro. Kamu tahu? What kind of Life is according to me? Segalanya seolah terjawab secara mendalam di film itu. Kebencian yang kumiliki beberapa waktu lalu terhadap orang tuaku, saudara-saudaraku, segala ketidak adilan yang kurasakan, sakit hati serta kehampaan ambisi dalam hidup, tekanan, ajakan kosong, nampak begitu saja tersampaikan.
"Semua orang memimpikan suatu kebebasan." Hal pertama yang dapat ku ambil dari film ini. Karena tak dapat dipungkiri bahwa aku seperti itu. Semua orang tak suka ditekan dan di dikte, ini pelajaran kedua yang kembali membuatku tak pernah ingin menyandang kalimat “menjadi guru” yang identik dengan kata ‘mengajar’...bukan ‘mendidik’ atau dengan kata lain guru selalu disangkutpautkan dengan kata "mendikte" bukan "memberi tauladan". Memang kurang etis, namun aku yakin banyak guru sudah lupa artifikasi sesungguhnya guru. Pahlawan tanpa Tanda Jasa.
Pelajaran keduanya adalah, "Semua orang punya impian yang berhak diwujudkan dengan caranya sendiri!" Hal ini mengingatkanku bahwa aku memiliki impian, yang berhak kuraih dan tak ada satupun orang boleh membatasinya apalagi merampasnya dariku.
Pelajaran ketiganya adalah; "Semua orang tahu bahwa semua memiliki batasan, namun batasan itu ditentukan oleh langit-langit kemauan, doa, usaha, serta takdir. Karena tak ada orang yang sempurna."
Pelajaran keempat; "Semua orang memiliki jalannya sendiri dalam hidup, demikian pula denganku, aku memiliki cara pandang lain yang 90% bisa saja berbeda dengan siapapun itu."
Namun dari seluruh wujud cerita dan alurnya kawan, satu hal saja kiranya yang benar-benar membuatku bergairah, "Arah hidup seseorang yang paling hakiki adalah kembali pada Tuhan dan selalu mengingat Allah sebagai pencipta kita."
Maka kemanapun engkau pergi kawan, jangan pernah lupa kita sedang bersamaNya, Dia tak pernah jauh....sesuai dengan prasangka kita. Begitu dekat, lebih dekat daripada apapun yang terlihat oleh kedua mata kita.
Pagi itu disebuah dapur seluas kurang lebih 4 X 3 m...............“Pokoknya nanti kalo uda lulus kamu mesti cepet-cepet ngelamar jadi sukwan di Sekolah Negeri!” Bahkan aku belum sempat menelan ludah.......satu kalimat dahsyat berhamburan ditelingaku: “Pokoknya nanti kalo pak SBY masih menjabat presiden dan ada Tes CPNS kamu harus ikut!”
Kata pokoknya lagi... pokoknya lagi... dan seterusnya selalu terngiang dalam telingaku yang agak sombong dan dipenuhi akan tabiat tidak merespon alias cuek! Sedikit keraguan padaku untuk menjawab dan beropini karena semua kata tersebut keluar dari seseorang sangat bermakna dalam hidupku, sekaligus dipercaya memiliki surga dibawah telapak kakinya (ibu).
Sementara itu dalam kastil hatiku terdalam, terselip suatu mimpi menjadi sesuatu yang lebih bermakna dan tampil berbeda. Sulit untuk meyakinkan itu pada orangtuaku yang sangat menyayangiku. Menjadi seorang penulis, atau seorang marketer, seorang enterpreneur yang rendah hati, tak memihak, memiliki akidah Islami, tampil sederhana dan terus berkarya.......aduhai indah sekali, namun apakah itu salah? Apakah itu berlebihan?
Tentunya hal itu bukanlah hal yang muluk-muluk bagi pemudi berdarah pengusaha (dalam sebuah buku karya enterpreneur ‘Jaya Setiabudi’ ia berkata nenek moyang kita adalah pengusaha yaitu bekerja menjadi pelaut/nelayan jadi kita adalah turunan pengusaha dan bukan turunan karyawan)sepertiku!!! Namun hal yang sangat indah itu, yang sangat suci itu, justru hanya terbiaskan oleh iklim sekitarku yang kemudian menjelma menjadi pohon mangga yang rindang tanpa buah, atau seperti tanaman anggrek tinggi melampaui pagar namun tak berbunga.
Sebut saja ayahku, sosok melankolis, keras, logis, berwibawa, kharismatik, bijak dengan tutur kata yang lembut senantiasa mengingatkanku bahwa aku ini perempuan. Namun aku selalu berpikir, justru karena aku perempuan maka untuk bertahan dalam konstelasi dunia yang makin tak karuan ini aku mesti berkembang dan berkarya menciptakan kepribadian yang unik dan kuat sebagai sastrawati liar, enterpreneur sejati, minimal untuk memberikan pelajaran terpenting bagi anak-anakku nanti. Tapi ayahku belum menyadarinya hingga saat ini.
Ibuku, wanita anggun, mempesona, cerdas, jeli, gesit, tangkas, macho (hehehe), kaku, disiplin, dan keren seolah selalu memberiku makna petuah begini: “Nduk (sebutan anak perempuan suku jawa tulen), "kehidupan itu akan jelas ketika kita benar-benar jelas menentukan pilihan pekerjaan kita. Jadilah karyawan untuk mendapatkannya, khususnya menjadi guru seperti ibu akan lebih bermakna dan bermanfaat!" Namun sekali lagi aku justru berpikir bagaimana cara untuk memiliki karyawan yang berdedikasi seperti guru, agar dalam kesehariannya mereka dapat selalu menerapkan slogan pendidikan yang sangat terkenal yaitu: “pendidikan sepanjang hayat”. Tapi lagi-lagi ibuku juga belum memahaminya hingga saat ini.
Teman-temanku, mereka adalah simbol akan keramaian, gotong royong, ambisius, nekat, having fun together, smart, betah dalam rutinitas akademisi kampus, organisatoris, pretty skill of teach, selalu membaca job vacancy, otoriter, petualang, egois, penakluk wanita, pelopor cinta dan kasih sayang antar manusia, ah......terlalu komplit untuk diungkap, karena semua itu mereka sandang begitu saja ketika aku mengenal mereka dari kejauhan maupun dengan jalinan persahabatan. Sekali lagi hanya ini kata-kata terbaik mereka untukku.....”Dian, kamu adalah bagian dari kita, kita adalah satu kesatuan, geografi-community”. Selebihnya mereka berkata demikian: “Dian, kapan kuliahmu bisa selesai? Bisnis thok kuliahmu gak mari-mari (gak slese-slese)! Kamu mau jadi apa nanti? Peluang jadi guru geografi SMP-SMA sudah habis tahun kemarin, yang menjabat malah temenmu sendiri, emangnya kamu gak tertarik ta? Emangnya kamu uda gak doyan jadi guru? Emange kamu yakin kamu bisa gede dengan bisnismu itu?” sungguh fenomenal, beragam, puitis, penuh simpatik, dan sangat meradang dalam otakku.....memangnya aku ini siapa? Tapi mereka juga bukan malaikat!”
Aku selalu ingin berkata, “Kawan, Jadi penulis, pebisnis atau guru...........semua itu hanyalah tipe pekerjaan! Ada berbagai cara memperoleh pekerjaan yang bagus dan prospektif. Namun sekali lagi keduanya hanyalah tipe, bukan nasib. Semua orang akan senang ketika dia telah menemukan jati dirinya dalam pekerjaan. Baku mutu pekerjaan tidak dinilai dari hasil berupa gaji, tapi baku mutunya akan terasa adil dan pas diterapkan pada seseorang ketika diukur dengan tingkat keikhlasan, keenjoyan, kesenangan dan kebahagiaannya dalam bekerja. Ok?”(namun kenyataannya aku belum memiliki kesempatan untuk mengatakannya!)
Maaf, kadang-kadang aku butuh hidup dengan caraku sendiri walau semua itu berakhir secara diplomatis atau egoisitas. Namun begitulah aku memandang kehidupan ini kawan.
Snap…snap…snap…
“Hiaaaattt…..Rasengan….!!!!” duch..emang gini nie repotnya kalo uda kegandrungan nonton pilem kartun. Semalam aku tertidur dengan pulasnya, eh….gak taunya ketemu si naruto . Dia lagi ngejar musuhnya si Pein, akhirnya pas mereka saling berkejaran di atas danau, si Pein mencoba menyelam ke dalam air. Dan cruuuuuuuuuuuuuzzzh……waoooooow…..Naruto dengan gaya pede-nya, mengeluarkan jurus andalan yang dimilikinya pas episode terakhir yang kuikuti!! Yup, “RASENGGAN SHURIKEN”!!!!!!!!!! Ya otomatislah….musuhnya klepek-klepek tak berdaya sampai aku terbangun dari mimpi.
“Ah, tak pernah aku merasa sebahagia ini sebelumnya.” WatchOutch….tiba-tiba aja ada lindu (gempa) dan kasurku bergoyang-goyang, akhirnya aku terbangun, Yuuhuuuu....lagi-lagi fenomena geografis terjadi dalam hidupku. Ada ngaruh gak ya? Ya jelas ngaruh lah, belum sempat ngobrol ma naruto malah bangun duluan! Yaelah.....pagi yang aneh!!!! Satu lagi renungan penting hari ini: “gak ada satupun manusia bisa terlepas dari fenomena geografi tiap detik dalam hidupnya!”
Pernah kubaca suatu klise pada sebuah buku psikologi modern yang menyatakan bahwa “aku adalah apa yang aku pikir”. Sekejap dalam pikiranku ini terlintas bahwa aku telah dicemari oleh banyak hal, misalnya pengetahuan yang diperoleh saat aku mengikuti pendidikan informal, pengetahuan yang berasal dari pengalamanku, dan pengetahuan yang berasal dari imajinasiku. Masing-masing buah pikiran itu pada akhirnya menghasilkan suatu kegiatan, sehingga kegiatan dapat membentuk karakter atau kebiasaan.
Dalam biografiku, aku berperan sebagai mahasiswi yang sama sekali tak terkenal karena tak memiliki prestasi akademik yang menonjol dalam kampus, menyebabkan aku tumbuh secara biasa dan terjerumus dalam sebuah rutinitas kampus yang menjemukan. Namun dalam kesederhanaan itu justru memberiku banyak kesempatan untuk melakukan kegiatan yang sangat berarti. Aku belajar lebih banyak daripada mereka yang dalam kesehariannya memiliki berbagai prestasi luar biasa dalam urusan akademis.
Rasa solidaritas, rasa saling menghargai, toleransi, setia kawan, kebersamaan, selain kupelajari semuanya saat menyandang jabatan tidak penting dalam organisasi intra kampus, aku mempelajarinya dari segala hal yang pernah terjadi dalam hidupku. Aku mengikuti setiap program yang bersifat traveling n back to nature. Aku gak peduli harus seberapa banyak waktuku yang akan hilang demi mengikuti kegiatan tersebut. Sebab disanalah tempat sesungguhnya untuk memulai belajar dan mengenal lingkungan serta mengetahui lebih dalam intisari geografi, yaitu segala yang bersifat fisik (alam), sosial (manusia), dan hubungan antara keduanya.
Selain pengalaman organisasi, aku juga banyak belajar dari musik dan film, bagiku musik seperti aliran kekuatan, mencerminkan suatu budaya, nilai, bahkan karakter. Begitu juga dengan film, ia memiliki suatu interpretasi sendiri terhadap kehidupan, yang diwakilinya melalui setiap gerakan masing-masing tokoh maupun latar. Oleh sebab itu, aku tak lagi heran mengapa saat persebaran Islam di Indonesia dulu, para wali Allah menyebarkan Islam secara merakyat dengan perantara musik dan wayang, karena keduanya mempunyai daya pikat visual yang sangat tinggi sehingga lebih mudah diserap dan diterima oleh moyang kita waktu itu.
Yach.........dalam setiap kata-kataku ini mencerminkan seluruh isi kepalaku saat ini, namun berbagai kekurangan yang aku sandang sebagai manusia biasa menyebabkan aku juga memiliki julukan baru yang kurang enak didengar. Orang yang aneh!!!! Yap, itulah sebutan yang kerap kudengar dari semua orang tentang aku. Jadi pengen berontak, tapi mau gimana lagi.., hal-hal yang kulakukan demi memegang teguh prinsip hidup dalam keseharian justru membuatku melakukan hal-hal kurang bisa dinalar dan diterima oleh khalayak. Padahal aliran yang ku anut bukan aliran sesat seperti “elia edEn” atau “si AgUs” yang beberapa bulan terakhir marak jadi artis dadakan bagi kepentingan jurnalisme.
Whatever apa kata orang, yang jelas aku adalah aku, No bodies perfect....including me!!